Ku Serahkan Perawanku Kepada Sepupu Ku
CITYBET - Pada saat bulan juni 2017 lalu, keadaan rumah saya sedang sepi.
Satu rumah dihuni oleh 7 orang, yaitu mama, papa, ada mbak saya yang masih
kuliah, dan saya sendiri masih duduk di bangku SMP kelas III. Baru saja selesai
Ebtanas, kemudia adik perempuan saya kelas V Sekolah dasar sedang main di
tangga. Lalu sepupu laki-laki saya (Angga) yang baru kelas III SLTP. Panggil saya
Nina asli dari manado.
Keluargaku adalah orang-orang sibuk, jadi aku yang serimg jaga
rumah,saya dengan sepupu saya yang bernama Angga. Senin itu tanggal 7 juni
2017, badan saya pegal sekali, selesai ngepel dan beres-beres rumah.
Seperti biasanya saya selalu mau dipijitin. Kalau biasanya
langganan dipijitin oleh ibu, dan sering juga sama Angga. Memang dari kecil saya
sudah biasa menyuruh dia. Karena badan terasa agak pegal, saya suruh Angga
pijitinn Anggapun nurut saja. Saya langsung berbaring tengkurap di atas karpet
diruang keluarga, dan Angga mulai memijat badanku.
Asyik juga badanku di pijit oleh Angga, tangannya kuat dan keras
sekali. Kusuruh pijit punggungku agar merasa lebih enak kembali.
“ Duh Angga pijitnya yang lurus donk, jangan miring kiri miring
kanan”, kataku protes
“ lagian posisinya enggak bagus kak “ jawab Angga
“ Alah.... ngak usah tapi-tapian ....biasa kan juga gitu. Ayo.... ‘Saya
tarik tangan Angga memaksanya untuk duduk di pahaku karena dia memijit dari
samping, seperti kalau dia memijit saya pada waktu-waktu sebelumnya.
Angga pada akhirnya mau juga, lalu duduk dan menjadikan kedua pahaku dekat
pantat sebagai bangkunya, dan mulai lagi ia memijit sekujur punggungku. Tapi,
pijitan agak lain (aku heran), makin lama makin saya rasakan tangannya agak
gemetaran, duduknya tidak karuan dan nafasnya agak ngos-ngosan.
“Kamu kenapa Angga, capek atau sakit..sih?”, tanyaku penasaran.
“Tidak, tidak apa-apa kok kak”, jawabnya. Akan tetapi duduknya mulai tidak
karuan, geser kiri dan kanan, sementara pantatnya seperti tidak mau dirapatkan
di pahaku, agak terangkat.
Akhirnya, saya menyuruhnya pindah, dan saya bangun, lalu duduk mendekati, (biasa hanya bermaksud menggoda.)
Akhirnya, saya menyuruhnya pindah, dan saya bangun, lalu duduk mendekati, (biasa hanya bermaksud menggoda.)
“Ayo.., kamu kenapa, ini pantatmu, selalu diangkat.., tidak biasa-biasanya”,
sambil tanganku bermaksud iseng mencubit pantatnya.
“Tidak, tidak apa-apa kak..”, jawabnya sambil menghindari cubitanku, malah
tanganku tersenggol celana bagian selangkangannya yang seperti agak tertarik
kain celananya dan agak menonjol, melihat itu timbul rasa isengku, karena
memang saya dan Angga kalau main seperti anak-anak yang masih TK, asal ngawur
saja.
“Loh.., itu apa di celanamu Angga, kok nonjol begitu..” Mendengar itu Angga merah padam mukanya, lalu ia berdiri ingin lari menghindar dari saya, tapi segera kutarik tangannya untuk duduk, dan tanganku yang satu menggerayangi celananya memegangi dan meraba benjolan tersebut.
“Jangan kak Nina Angga malu..”, katanya.
Dasar saya yang nakal, saya pelototin matanya, Angga langsung diam, dan
tanganku leluasa memegang barang tersebut.
Penasaran, saya buka resliting celananya dan menarik keluar barangnya yang mengeras tersebut, dan astaga, ternyata penis Angga sudah menegang.
Penasaran, saya buka resliting celananya dan menarik keluar barangnya yang mengeras tersebut, dan astaga, ternyata penis Angga sudah menegang.
Baru kali ini saya melihat penis milik orang
yang bukan anak-anak dan sudah disunat yang tegang dan keras serta panjang
seperti itu.
Sementara Angga diam saja, kepalanya hanya
menunduk, mungkin malu atau bagaimana saya tidak tahu.
Saya acuh saja, perlahan-lahan, kuelus-elus penis Angga, semakin mengeras penisnya hingga urat-uratnya seperti mau keluar. Kudengar Angga mendesah tertahan. Lalu kuurut-urut sambil kupijit kepala penisnya yang merah itu, Angga makin mendesah, “Ah.., ah..”
Kugenggam erat penis Angga dan kukocok-kocok dengan perlahan, semakin lama semakin kencang.
Badan Angga ikut menegang, sambil kepalanya
terangkat ke atas menatap langit, mulutnya terbuka, dia mulai agak mengerang,
“Achh..”.
Semakin kencang penis Angga kukocok, semakin menggeliat badan Angga membuat saya tersenyum geli melihatnya. Sampai erangan Angga makin mengeras, “Ach.., achh..”. Dan badannya makin menggeliat, hingga mungkin tidak tahan…, ia lalu memelukku erat.
Mulanya saya kaget akan reaksinya, tapi
saya biarkan saja, karena keasyikan mengocok penis Angga . Rupanya Angga sudah
semakin menggeliat, hingga tangannya entah sadar atau tidak ikut menggeliat
juga, meraba badanku dan payudaraku.
“He Angga …, kenapa..” tegurku, sambil tetap mengocok penis Angga, “Achh…,
achh..” Hanya itu yang Angga bilang, sementara tangannya meremas-remas payudaraku,
dan remasannya yang kuat membuatku merasakan sesuatu yang lain, hingga saya
biarkan saja Angga meremas payudaraku, dan Angga lalu menyingkap baju kaos yang
kupakai, hingga kelihatan Bra dan meremas payudaraku lagi hingga keluar dari
Bra .
“Acchh…, accchh” erang Angga, saya mulai merasakan kenikmatan tersendiri pada saat payudaraku tidak terbungkus BRA diremas oleh tangan Angga dengan kuat, sedangkan penisnya tetap saja kukocok-kocok. Dan entah naluri apa yang ada pada Angga, hingga dia nekat menyosor payudaraku dan mengisap putingnya seperti anak bayi yang sedang menyusu.
“Aduh…, Angga …, aduhh” Hanya itu yang mampu kuucapkan, payudaraku mulai
mengeras, keduanya diisap secara bergantian oleh Angga .
Saya juga mulai menggeliat, kutarik kepala Angga dari payudaraku, lalu
kudekatkan ke wajahku, kucium bibirnya dengan nafsu yang muncul secara
tiba-tiba, Angga balas mencium, bibir kami berdua saling memagut, lidah bertemu
lidah saling mengadu dan menjilati satu sama lain.
Tangan Angga menggerayangi badanku, melepaskan baju dan Bra , hingga aku bugil
sebatas dada. Kulepaskan juga baju yang dipakai Angga, dan kupelorotkan
celananya, hingga Angga bugil tanpa sehelai benangpun, dan kembali kukocok
penisnya, sedangkan Angga kembali menyosor payudaraku yang sudah keras
membukit.
Perlahan tangan Angga menelusuri rokku lalu menyelusup masuk ke dalam rokku, “Acchh…, Accchh”, Saya dan Angga terus mengerang dan menggelinjang. Tangan Angga menyelusup ke dalam CD-ku, lalu mengusap-ngusap vaginaku.
“Aduuuhh…, Angga ..” erangku, sementara jarinya mulai ia masukkan ke dalam vaginaku yang mulai kurasakan basah, dan Angga mempermainkan jarinya di dalam vaginaku.
“Accchh…, aduuuhh…, acccchh..”. Tak tahan lagi, Angga menarik lepas rok dan
celana dalamku, hingga akhirnya saya kini telanjang bulat. Kemudian Angga
mencium bibirku dan saya tetap mengocok penisnya, sedangkan jarinya bermain
dalam vaginaku.
“Accchh..” Hanya erangan tertahan karena tersumbat bibir Angga yang keluar dari mulutku. Kemudian Angga berhenti menciumku, lalu ia mengambil posisi menindih badanku, saya membiarkan saja apa yang akan Angga lakukan, karena kenikmatan itu sudah mulai terasa mengaliri pembuluh darahku. Dan, tiba-tiba saya rasakan sakit yang teramat sangat di selangkanganku.
“aaccccchh, Angga .., apa yang kau lakukan..”, tanyaku. Tapi terlambat, rupanya Angga sudah memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku, dan seperti tidak mendengarkan pertanyaanku, Angga mulai mengoyang batang penisnya naik turun dalam vaginaku yang semakin berlendir dan mulai terasa basah oleh aliran darah perawanku yang mengalir membasahi vaginaku.
“Accchh…, Angga …, aduuhh Angga ..”, erangku.
Badanku semakin menggelinjang, kujepit badan Angga dengan kedua kakiku sementara tanganku memeluk erat dan menggoreskan kukuku di punggung Angga . Semakin kencang goyangan penis Angga dan semakin keras pula erangan kami berdua.
Badanku semakin menggelinjang, kujepit badan Angga dengan kedua kakiku sementara tanganku memeluk erat dan menggoreskan kukuku di punggung Angga . Semakin kencang goyangan penis Angga dan semakin keras pula erangan kami berdua.
“Accch…, aduhh..” Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang sangat nikmat yang
terdorong dari dalam…, dan erangan panjang saya dan Angga, “aahh”. Bersamaan
semprotan mani Angga dalam vaginaku dan semburan maniku yang menciptakan
kenikmatan yang tak pernah kurasakan dan kubayangkan sebelumnya.
Angga menarik keluar penisnyan lalu
berbaring di sampingku. Kami berdua saling bertatapan, seperti ada penyesalan
tentang apa yang telah terjadi. Akan tetapi rupanya nafsu kami berdua lebih
kuat lagi.
Kuraih kembali dan kudekatkan wajahku ke
wajah Angga, kami lalu berciuman lagi dan saling melumat, kemudian kupegang
erat penis Angga, sehingga kembali menegang dan kembali lagi kami melakukan
hubungan badan tersebut hingga beberapa kali.
Hingga hari ini saya dan Angga, bila ada
kesempatan masih mencuri waktu dan tempat untuk melakukan hubungan badan,
karena mengejar kenikmatan yang tiada taranya. Kadang kamarku, kadang dikamar
Angga ataupun didalam kamar mandi.


Komentar
Posting Komentar